Go

Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Polisemi

Ditulis oleh Aan Setyawan
Dipublikasikan pada December 13th at 9:48pm
Share :

Polisemi muncul bukanlah bersifat "ujug-ujug" (tiba-tiba). Akan tetapi, terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya polisemi di dalam suatu bahasa. Berikut ini beberapa faktor penyebab terjadinya polisemi di dalam bahasa:

1. Pergeseran pemakaian (shift in application)

Polisemi dapat terbentuk karena adanya pergeseran makna dalam pemakaian bahasa. Pergeseran makna yang belum begitu jauh akan memungkinkan penutur atau peneliti bahasa mengenali hubungan makna yang baru dengan makna primernya. Sebaliknya, jika pergeseran makna itu sudah begitu jauh, akan meyulitkan proses pengidentifikasian makna yang baru dengan makna primernya sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa kata-kata berpolisemi itu akan menjadi pasangan berhomonim. Berikut ini adalah contohnya. Kata cair menurut Kamus Besar Bahasa memiliki makna yang berbeda-beda karena pergeseran makna.

cair

  1. bersifat tak kental (tidak pekat, tidak beku)

  2. bocor sehingga sudah diketahui banyak orang

  3. dapat diuangkan

  4. lemah, tidak bersemangat

Perbedaan kata cair dalam entri di atas relatif masih dekat dengan makna primernya.

2. Spesialisasi dalam lingkungan sosial(specialization in social milieu)

Polisemi dapat terbentuk karena adanya tuntutan penggunaan kata-kata yang khas di lapangan kehidupan atau lingkungan sosial tertentu. Misalnya, kata akar yang memiliki makna primer ‘bagian tumbuh-tumbuhan yang masuk ke dalam tanah sebagai alat penguat dan pengisap air dan zat makanan’. Kata akar ini dalam ranah ilmu bahasa bermakna ‘unsur yang menjadi dasar pembentukan kata’. Sementara itu, dalam ranah ilmu matematika kata ini bermakna ‘penguraian dari pangkat’.

3. Bahasa figuratif (figurative language)

Polisemi dapat terbentuk karena beberapa kata tidak hanya memiliki literal, tetapi juga memiliki makna kias atau makna figuratif yang pada akhirnya membentuk metafora. Hal ini terjadi karena hal-hal yang diwakili oleh suatu kata memiliki kesamaan bentuk, sifat, fungsi, tempat, atau kombinasi di antaranya, misalnya entri kaki.Kaki meja memiliki kesamaan bentuk, tempat, dan fungsi dengan kaki manusia.

4. Penafsiran atas pasangan berhomonim (homonym reinterpreted)

Polisemi yang terbentuk karena mengalami penafsiran kembali dengan kata-kata berhomonim harus melalui proses kajian diakronis sebuah kata. Misalnya, kata duga yang secara diakronis bermakna ‘batu yang digunakan untuk mengukur kedalaman laut, sungai’ berhomonim dengan kata duga yang secara sinkronis bermakna ‘kira, tebak’. Kedua kata ini memiliki kemungkinan satu sama lain berhubungan pada awal pemakaiannya.

5. Pengaruh bahasa asing(foreign language)

Polisemi banyak ditemukan pada bahasa-bahasa yang mengalami perubahan budaya karena menerima pengaruh dari kebudayaan lain, misalnya dari peradaban Eropa.Jadi, ada native senses dan acculturated senses.Berikut ini adalah contoh polisemi yang dipengaruhi oleh masuknya kebudayaan bangsa lain ke dalam suatu bahasa (Zgusta, 1971:62).

Hindi bijli :
1. cahaya

  1. listrik

Tamil kuntu :

  1. bola, benda yang berbentuk bulat

  2. bom

Dari contoh di atas terlihat bahwa entri bijli dalam bahasa Hindi memiliki makna asli atau native senses ‘cahaya’. Akan tetapi, setelah peradaban Barat masuk dan mempengaruhi bahasa Hindi dengan ditemukannya listrik, maka bahasa Hindi harus menyediakan sebuah kata yang dapat mewakili hal baru tersebut. Oleh karena entri bijli yang bermakna cahaya memiliki kedekatan makna dengan listrik, maka kata tersebut digunakan untuk mewakili kata listrik. Makna baru yang muncul karena adanya proses masuknya budaya lain inilah yang dinamakan makna yang telah terakulturasi atau acculturated senses. Hal serupa juga terjadi pada bahasa Tamil yang memiliki entri kuntu dengan dua makna, yaitu makna asli (native senses) ‘bola, benda yang berbentuk bulat’ dan makna yang terakulturasi (acculturated senses) ‘bom’.

Dalam penyusunan kamus, kata berhomonimi muncul sebagai lema (entri) yang terpisah sedangkan kata berpolisemi muncul sebagai satu lema yang sama dengan makna yang banyak.Ketika ada satu kata yang memiliki banyak makna kehilangan ‘koneksi makna’nya, maka kata tersebut disebut homonimi dan maknanya dapat dipisahkan dalam entri yang berbeda. Berikut ini adalah contoh entri yang menggambarkan perbedaan antara homonimi dan polisemi.

Artikel Lainnya

아요/ 어요/ 해요 (Akhiran Kalimat informal)
Present perfect Tense
Kosakata Yang Berhubungan Dengan Liburan Dan Hari Raya Di Dalam Bahasa Inggris
Beberapa Arti Have/Has dalam Bahasa Inggris
Apa Perbedaan Hope dan Wish?
©2019 BelajarBahasa.ID
Developed by Kodelokus Cipta Aplikasi