Go

Culture as Text: Kebudayaan Sebagai Realitas dan Membentuk Realitas?

Ditulis oleh Aan Setyawan
Dipublikasikan pada November 14th at 4:12am
Share :

Kebudayaan sebagai teks berarti memandang budaya sebagai sebuah bentuk atau hasil konkret yang mengandung makna. Pemaknaan kebudayaan tersebut diperoleh melalui proses 'membaca' dan 'menafsirkan'. Dalam hal ini, kebudayaan dipandang sebagai realitas atas apa yang terjadi pada masyarakat, tetapi juga sebagai pembentuk realitas itu sendiri. Cerita Malinkundang, misalnya, adalah sebuah cerita budaya yang memiliki nilai untuk menghormati dan menghargai orang tua. Cerita Malinkundang yang dibuat tersebut, selanjutnya, juga membentuk realitas pada masyarakat; membentuk keyakinan pada masyarakat untuk menghormati dan tidak boleh berbuat durhaka kepada orang tua. Begitu juga dalam teks-teks kebudayaan lain, sebut saja Van Gogh, Herry Potter, Sherlock Holmes, dll. yang mengandung masing-masing nilai dan maksud budaya yang terkandung dalam cerita tersebut dan sekaligus membentuk realitas budaya pada masyarakat yang bersangkutan. Menurut Karl Marx semua jenis teks kebudayaan tidak ada yang bebas nilai. Akan tetapi, ada maksud dibalik teks tersebut.

Kebudayaan sebagai teks bukan saja mempresentasikan realitas, tetapi membentuk realitas. Dalam hal ini, manusia sebagai pencipta kebudayaan sekaligus pengguna kebudayaan. Sebagai contoh, karya-karya seni dan sastra seperti novel, film dibuat oleh manusia. Film atau karya sastra tersebut selanjutnya dinikmati pula oleh manusia. Film dan karya sastra tersebut juga kemudian mempengaruhi pandangan atau pola pikir masyarakat. Hal ini seperti lingkaran setan yang tidak ada ujungnya. Bahkan, karya tersebut juga menentukan munculnya karya-karya yang lain. Kebudayaan sebagai teks ini bukan saja pada tataran karya sastra, melainkan juga produk-produk budaya yang bersifat statis, misalnya tempat ibadah seperti candi, masjid, pura, gereja, dan lain-lain. Manusia menciptakan tempat ibadah tersebut dan kemudian tempat ibadah tersebut mempengaruhi bagaimana kehidupan beragama selanjutnya.

Pendekatan dalam Membaca dan Menafsirkan Teks

Dalam proses membaca dan menafsirkan makna di balik suatu 'teks', ada beberapa pendekatan yang dapat kita gunakan. Pertama adalah pendekatan pengirim; kita memperhatikan maksud dan posisi pengirim. Sebagai contoh, latar belakang, pendidikan, status sosial, dan pandangan politik. Apakah dalam penciptaan sebuah karya, pengirim terpengaruh dengan kehidupan sosialnya; dipecat, diasingkan, cerai, orang tua meninggal, pendidikan tidak selesai, dll. sehingga mempengaruhi karya sastranya? Kedua adalah pendekatan penerima atau pembaca. Dalam hal ini teks dinilai oleh penikmat produk kebudayaan. Dalam pendekatan ini, lebih menekankan makna yang terkandung di dalam produk budaya tersebut yang biasanya ditafsirkan oleh pembaca; pembaca novel, penikmat film, penikmat fotografi, dan sejenisnya. Ketiga adalah pendekatan kontekstual. Kita melihat konteks yang sedang berlangsung saat suatu teks kebudayaan dibuat. Dengan kata lain, kita melihat domain apa yang mempengaruhi dari produk budaya tersebut. Sebagai contoh, film G30SPKI dibuat dalam konteks terjadinya sebuah kudeta. Terakhir adalah pendekatan tekstual, yaitu melihat unsur internal yang terkandung dalam teks kebudayaan tersebut, misalnya sudut pandang, alur, penokohan jika kita mengkaji produk-produk sastra.

Dengan melihat beberapa pendekatan kebudayaan sebagai teks, kita dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya kebudayaan sebagai teks menempatkan budaya sebagai wujud atau bentuk interpretatif dari makna-makna yang terkandung dalam kebudayaan tersebut. Karena dari semua pendekatan tersebut, umumnya memerlukan 'proses pembacaan' dan interpretasi.

Kebudayaan Membentuk Realitas: Siapa yang Menentukan?

Ilustrasi di atas telah melihat bagaimana sebuah teks kebudayaan mampu membentuk realitas. Lalu, pertanyaan yang muncul adalah siapakah yang menentukan realitas tersebut? Sebagai contoh iklan pemutih wajah umumnya berusaha membentuk realitas kulit yang cantik adalah putih atau iklan susu peninggi badan berusaha membentuk realitas pada masyarakat bahwa badan yang tinggi lebih unggul dari yang pendek. Iklan ini lalu diamini oleh masyarakat. Lalu terbentuklah konsep kecantikan; orang yang memiliki kulit putih adalah orang yang cantik. Di sini pemilik modal menentukan realitas atas kebudayaan.

Contoh yang menarik barangkali jika kita melihat iklan pemilu atau iklan politik. Penyelenggara pemilu atau partai politik berusaha membentuk realitas kepada masyarakat bahwa dengan ikut serta pada pemilu maka akan menghasilkan pemerintahan yang kuat. Di sini, penentu realitas adalah masyarakat. Faktanya seberapa sering iklan tersebut dibuat, atau presiden sekaligus yang mengajak, masyarakat pada umumnya tetap antipati dengan kegiatan pemilu. Terlepas dari alasan apa yang membuat masyarakat enggan untuk ikut menyukseskan pemilu, misalnya alasan ekonomi (lebih baik kerja mengangkot daripada 1 hari hanya untuk mencoblos) atau alasan ideologis seperti kelompok-kelompok yang mengharamkan pemilu atau mengharamkan demokrasi, contohnya kelompok masyarakat HTI.

    Dari sini kita bisa menilai bahwa pada contoh kasus di atas penentuan realitas nampaknya ada di masyarakat sendiri, bukan oleh  penguasa. Dengan begitu, pemaknaan dominan yang dilakukan oleh masyarakat adalah yang menang. Sebagai contoh, orang Jakarta yang memaknai warna kuning sebagai warna cerah yang membahagiakan karena saat pernikahan menggunakan tema warna kuning, akan kalah oleh pemaknaan warna kuning sebagai simbol kesedihan oleh masyarakat Jakarta secara umum.

Melihat Pergeseran Pemaknaan oleh Masyarakat Secara Diakronis

Inilah kelebihan dari memandang kebudayaan sebagai teks. Di sini, kita memiliki ruang dan waktu untuk membaca dan menafsirkan sebuah teks kebudayaan. Dari teks-teks kebudayaan tersebut ada yang mengalami pergeseran sedemikian rupa. Lagi-lagi, yang menentukan pemaknaan adalah masyarakat sendiri. Sebagai ilustrasi, candi pada mulanya dimaknai sebagi tempat ibadah yang suci. Tempat sakral di mana kita harus menjaga adab ketika berada di tempat tersebut. Namun, pada saat ini, orang pergi ke candi bukan karena untuk beribadah, atau memandang itu adalah tempat ibadah, melainkan lebih memandang tempat yang baik untuk sekedar jalan-jalan, misalnya untuk aktivitas sosial media; sebagai tempat foto-foto karena instagramable. Di sini pemaknaan budaya oleh pembuat candi berbeda dengan pemaknaan oleh masyarakat.

    Barangkali contoh yang menarik adalah fenomena _kids zaman now_ yang bisa kita lihat di video-video di sosial media. Di dalam video tersebut, pembuat video ingin menunjukkan perbedaan generasi anak-anak zaman sekarang dengan generasi tua, misalnya anak kecil yang sudah mengendarai motor, anak kecil yang sudah merokok, anak kecil yang lupa waktu dengan _gadget_ nya, dan lain sebagainya. Fenomena ini jika kita baca secara diakronis tentu kita bisa menafsirkan adanya pergeseran budaya anak-anak karena pengaruh perubahan zaman; perubahan teknologi utamanya. Permainan tradisional, misalnya, sebagai teks kebudayaan dapat kita pahami sebagai bentuk permainan ana-anak yang dipengaruhi oleh masyarakat dewasa.

'Membaca' Permainan Anak-Anak: Sebuah Contoh Kasus

Pada dasarnya tradisi lisan, misalnya permainan tradisional dan lagu tradisional, merupakan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat tertentu. Kehadiran permainan tradisional, misalnya, sangat dekat dengan kelompok masyarakat yang memilikinya. Hal ini karena isi permainan tradisional kerap kali mengungkapkan kondisi sosial dan budaya tertentu. Misalnya, berisi gambaran latar belakang sosial, budaya, dan nilai serta kepercayaan masyarakat. Permainan tradisional adalah produk budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, seperti halnya cerita rakyat, puisi rakyat, dan lagu-lagu rakyat. Permainan anak-anak pada dasarnya adalah bagian dari hasil budaya masyarakat dewasa. Oleh karena itu, akan mewakili budaya masyarakat tertentu dalam beberapa aspek kehidupan. Di sini permainan tradisional bisa kita pandang sebagai teks kebudayaan. Dengan demikian perubahan permainan anak-anak dari tradisional ke modern adalah fenomena budaya dari perubahan budaya masyarakat dewasa. Permainan modern anak-anak seperti yang tercermin di smartphone saat ini adalah bagian dari kebudayaan masyarakat dewasa. Dalam hal ini, barangkali penelitian lebih mendalam mengenai permainan tradisional sebagai teks kebudayaan sangat menarik, misalnya apakah permainan tradisional adalah teks yang bebas nilai. Padahal, kalau kita mengacu pada pandangan Karl Marx tidak ada teks yang benar-benar bebas nilai; semua ada maksud di balik itu semua. Apa makna dan maksud dari permainan tradisional?

Kesimpulan

Sebagai penutup, kebudayaan sebagai teks berarti memandang budaya dalam konteks konkret yang bisa dibaca, diartikulasikan, dan ditafsirkan. Teks kebudayaan tidak harus dari karya-karya sastra seperti novel dan film. Benda-benda objek yang konkret seperti barang-barang produk manusia sangat menarik untuk dikaji, misalnya sebuah ponsel smartphone atau hal-hal yang bisa kita bandingkan secara diakronis, misalnya membaca permainan tradisional dan permainan modern sebagai teks kebudayaan.

Daftar Bacaan

Bachmann-Medick, Doris. 2003. Culture as Text. Berlin: De Gruyter.

Sutrisno, M & Hender Putranto (eds). (2005). Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Artikel Lainnya

Cara Membentuk Kata Benda/Noun dalam Bahasa Inggris
Ini Dia Cara Menghapal Kosakata dengan Cepat: "Karena Because Tidak Pernah Never"
습니다 / ㅂ니다 (Membuat Kalimat Formal)
Boleh dan tidak boleh
Penggunaan Than dan Then!
©2019 BelajarBahasa.ID
Developed by Kodelokus Cipta Aplikasi