Go

Mengenal Analisis Wacana Kritis Untuk Membedah Ideologi dan Keberpihakan Media

Ditulis oleh Aan Setyawan
Dipublikasikan pada November 15th at 5:24am
Share :

Email: aan.setyawan@ui.ac.id

Salah satu judul berita di Kompas edisi cetak, 23 Maret 2018 yang lalu berbunyi Novanto Menyebut Sejumlah Nama Baru. Sekilas jika kita membaca judul berita ini tidak ada yang salah. Secara tata bahasa maupun secara makna tidak ada yang perlu disanggah. Judul berita tersebut memang menggambarkan realitas yang ada, yaitu Novanto menyebutkan beberapa nama baru dalam lanjutan sidang E-KTP. Akan tetapi, jika kita kaji secara kritis sebenarnya ada sebuah kecenderungan keberpihakan dari pihak yang memproduksi wacana berita tersebut. Bentuk keberpihakannya nampak dari adanya pihak yang disebutkan, yaitu Puan Maharani dan Pramono Anung, disembunyikan dalam judul berita tersebut.

Inilah yang dibahas lebih tajam dalam analisis wacana kritis (AWK). Hal yang patut digarisbawahi mengenai ihwal kritis menurut Renkema (2004) adalah tidak bebas nilai dalam menganalisis sebuah wacana. Dengan kata lain, sebuah analisis tidak bisa netral. Dalam menganalisis sebuah wacana secara kritis kita tidak bisa hanya berpangku pada analisis lingusitik murni semata, tetapi bidang-bidang yang lain terkait, misalnnya sosiologi dan stilistika, sehingga kita mampu mendeteksi adanya manipulasi dan diskriminasi pada masalah-masalah sosial. Hal ini didasari bahwa dalam AWK setidaknya ada kajian internal bahasa dan kajian di luar bahasa sebagai konteks untuk membedah praktik-praktik sosial. AWK melihat bagiamana bahasa, kuasa, dan ideologi saling terhubung satu sama lainnya sehingga mampu memproduksi sebuah wacana. Renkema melihat bahwa AWK lebih banyak menyita perhatiannya pada relasi kuasa dan ideologi dalam membentuk wacana sehingga memaksa pembaca atau pendengar menerima realitas yang diproduksi dari wacana tersebut.

Mengingat dalam analisis wacana kritis kita memerlukan pengetahuan atau konteks di luar bahasa, hal yang menarik menurut saya, tentu dari sudut pandang kita sebagai seorang linguist, adalah bagaimana linguistik secara internal mampu menunjukan bukti-bukti linguistiknya bahwa ada sebuah wacana yang tidak biasa diproduksi. Linguistic evidence inilah yang tentu sangat penting dalam membantu menginterpretasikan sebuah wacana. Halliday barangkali adalah tokoh yang berhasil dalam menunjukan bagaiamana struktur bahasa mampu menunjukan sebuah realitas yang telah diproduksi dalam sebuah wacana. Sebagai contoh, berita yang sama memungkinkan tiga judul yang berbeda. Konstruksi transitivitas bahasa di sini menentukan siapa yang cenderung melindungi aktivis, melindungi polisi, dan siapa yang netral.

(a) The police arrested a lot of activists

(b) A lot of activists were arrested

(c) There were a lot of arrests

(Renkema, 2004: 284)

Jika Halliday lebih menekankan bagaimana struktur bahasa menunjukan wacana tertentu. Ada pula yang menekankan bagaiamana leksis memiliki kekuatan untuk menganalisis wacana. Sinclair yang merupakan sama-sama murid dari Firth seperti halnya Halliday justru lebih tertarik pada leksis. Dalam karya-karyanya, Sinclair (2004) memang lebih banyak menghabiskan waktunya pada leksis dengan alat bantu korpus bahasa. Sinclair, misalnya, menunjukkan bagaimana leksis tertentu memiliki semantik prosodi yaitu makna leksis tertentu dapat beraura negatif atau positif, misalnya kata accident dalam bahasa Inggris memiliki semantik prosodi negatif karena sering berkolokasi dengan kata yang negatif seperti tercermin dalam kolokasi happen accident. Dalam bahasa Indonesia, juga ditemukan bahwa kata membantah memiliki semantik prosodi negatif karena lebih sering berhubungan dengan hal-hal yang negatif tercermin dalam kolokasi-kolokasi seperti membantah tuduhan, membantah tudingan, membantah kehamilan, membantah kenaikan, membantah anggapan, dst. Subjek yang membantah umumnya dipandang telah melakukan sebuah tindakan yang tidak baik. Dalam berita Kompas seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu Novanto Menyebut Sejumlah Nama Baru, misalnya ditemukan penggunaan membantah berikut ini:

Dalam konteks persidangan, penerimaan dan menerima (uang/barang) umumnya berhubungan dengan tindakan negatif.

Beberapa Pendekatan Berbeda dari ahli AWK

Jika bahasa mengisi ruang-ruang demografi maupun ruang kognitif, wacana pun demikian. Wacana juga berhubungan dengan identitas yang pada akhirnya menggambarkan ideologi dari suatu kelompok. Oleh karena itu, sangat memungkinkan untuk melihat wacana sebagai pengisi ruang tertentu yang dipaksakan. Fairclogh, misalnya, lebih melihat wacana sebagai praktik sosial. Dengan pandangannya tersebut menunjukan bahwa wacana adalah bentuk representasi ketika melihat realitas atau wacana adalah bentuk dari suatu tindakan. Model praktik sosial ini juga menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara wacana dan struktur sosial. Bagaimanapun wacana yang telah diproduksi membentuk masyarakat. Fairclogh melihat wacana terdiri dari tiga dimensi, yaitu teks, praktik kewacanaan, dan praktik sosial. Sementara itu, Van Dijk (2017) lebih melihat wacana sebagai proses kognisi sosial. Oleh karena itu, elemen dasar dalam menganalisis wacana menurut Van Dijk adalah teks, kognisi sosial, dan konteks. Van Dijk (1993) & (1995) secara khusus menulis tujuan dari AWK dan prinsip-prinsip dalam AWK. Menurutnya tujuan dari AWK adalah melihat diskursif yang menunjukan adanya penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh kelompok dominan maupun oleh institusi negara. Wajar jika Van Dijk lebih banyak membahas rasialisme dalam kajiannya.

Tulisan terbaru Fairclough (2017) CDA as Dialectical Reasoning menunjukan betapa pendekatan dalam CDA mampu mengalami perubahan-perubahan. Fairclough, misalnya, mengatakan bahwa pendekatanya selamat tiga puluh tahun telah berubah. Saat ini pendekatan terbarunya adalah CDA as dialectal reasoning. Ada tiga hal yang menjadi pokok pembicaraanya, yaitu critique, explanation, dan _action.__ _Menurutnya kritik sosial bukan sekedar mengkrtisi realitas sosial, tetapi juga agar menjadi lebih baik. Pada tahap ini nampaknya Fairclough secara jelas meletakan bahwa Ia berada pada sisi yang tidak netral, yaitu pada sisi yang menurutnya sesuatu yang membuat lebih baik.

CDA combines critique of discourse and explanation of how discourse figures in existing social reality as a basis for action to change reality. This in summary form is what I mean by 'dialectical reasoning': a way of reasoning from critique of discourse to what should be done to change existing reality, by way of explanation of relations between discourse and other components of reality. (Fairclough, 2017: 13)

Daftar Bacaan

Fairclough, Norman. (2017). 'CDA as dialectal reasoning' dalam The Routledge Handbook of Critical Discourse Studies. (Eds. John Flowerdew & John E. Richardson). Hal 13-25

Fairclogh, Norman & Fairclough Isabela. (2012)_. Political Discourse Analysis: A Method for Advanced Students._ London: Routledge

Renkema, Jan. (2004). Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing

Sinclair, John. (2004). Trust the Text: Lan__guage, Corpus, and Discourse. New York: Taylor & Francis e-Library

Van Dijk, Teun A. (2017). 'Socio-Cognitive discourse studies' dalam The Routledge Handbook of Critical Discourse Studies. (Eds. John Flowerdew & John E. Richardson). Hal 26-43

_______________(1995). Aims of Critical Discourse Analysis dalam Japanese Discourse Vol. 1 (1995), 17-27

______________ (1993). Principle of Critical Discourse Analysis dalam Discourse & Society (London). Vol. 4(2): 249-283

Artikel Lainnya

Else
Berikut ini Penamaan Hewan Betina dan Jantan dalam Bahasa Inggris
Passive Voice
Perbedaan Extent dan Extend: To Some Extent atau Extend?
Causative Verb
©2019 BelajarBahasa.ID
Developed by Kodelokus Cipta Aplikasi